Siapa di sini yang masih terbangun di pagi hari tetapi tidak mengetahui apa tujuan Tuhan membangunkan kita?
Atau lebih parahnya, kita mengeluh dengan semua yang terjadi dan berharap kita tidak terbangun dari tidur kita?
Proses pencarian jati diri dan tujuan hidup memang menjadi problematika yang sering dialami oleh seseorang yang baru saja beranjak dewasa dan semakin hari semakin menjadi suatu hal yang sangat kompleks untuk diselesaikan.
Well, then you must know about IKIGAI.
Sebuah konsep yang diperkenalkan dan dijalani oleh orang-orang di Jepang untuk bisa membuat kita hidup lebih bahagia dan menyempurnakan kita sebagai seorang manusia.
Dan Buettner, penulis buku Blue Zones: Lessons on Living Longer from the People Who’ve Lived the Longest mengatakan bahwa konsep IKIGAI ini bersifat universal dan bisa diterapkan dalam konteks apapun dan dimanapun kita berada.
Mari kita bedah lebih lanjut mengenai konsep IKIGAI.
IKIGAI adalah sebuah konsep kehidupan yang berdasarkan pada 4 elemen.
Apa yang kita sukai?
Apa yang dunia butuhkan?
Apa yang kita bisa atau mampu lakukan?
Apa yang bisa memberikan keuntungan bagi kita?
Seseorang akan dianggap telah menemukan jalan hidupnya ketika bisa menyelesaikan 4 pertanyaan ini dalam sebuah jawaban atau tindakan yang dilakukan. Sebaliknya, jika kita kehilangan salah satunya, secara teori mengatakan bahwa esensi hidup kita akan berkurang, bahkan berpotensi menimbulkan suatu permasalahan di dalam diri kita.
Misalkan, kita menyukai apa yang kita kerjakan tetapi tidak mendapatkan bayaran akan hal tersebut, maka kita tidak bisa bertahan hidup karena kita butuh uang.
Kita melakukan sesuatu yang menguntungkan tetapi sebenarnya kita tidak menyukainya, pada akhirnya kita akan stres dalam proses menjalaninya.
Atau kita menyukainya dan itu menguntungkan, tetapi kita sebenarnya tidak mampu melakukannya, pada akhirnya kita hanya akan berjalan di tempat saja.
Konsep ini jauh menarik kita lebih dalam dibandingkan dengan sekadar bekerja berdasarkan passion yang saat ini ramai dibicarakan di berbagai kegiatan. Karena konsep ini seolah menggabungkan antara idealisme dan cita-cita yang kita inginkan dengan realitas dunia yang harus kita terima dan hadapi.
Lalu bagaimana cara melakukannya?
Mari kita bahas masing-masing elemen terlebih dahulu.
Apa yang kita sukai?
Menemukan apa yang kita sukai menjadi hal pertama yang harus diketahui. Dan apa yang kita sukai biasanya tercermin dari seberapa besar antusiasme kita akan hal tersebut.
Memang tidak mudah untuk menemukan hal ini, karena biasanya kita sendiri bingung dengan sebenarnya apa yang kita sukai.
Salah satu caranya adalah menjawab pertanyaan ini:
“Apa yang akan tetap kita lakukan dengan sungguh-sungguh sekalipun kita tidak bisa melakukannya bahkan tidak ada orang yang mau menerima, mengakui ataupun mengapresiasinya?”
Apa yang kita bisa atau mampu lakukan?
Selanjutnya adalah mengetahui apakah hal yang kita sukai sudah bisa kita lakukan dengan baik atau kita mempunyai keahlian dalam hal itu. Menyadari sudah sejauh mana kemampuan yang kita miliki memang tidak mudah.
Dan untuk mengetahui hal tersebut biasanya timbul dari pengakuan oleh orang lain. Karena itu cobalah untuk konsisten melakukan hal ini dan selalu menguji baik dalam sebuah pertandingan ataupun kompetisi untuk mengetahui sampai dimana level kemampuan kita.
Intinya adalah kita bisa menjawab pertanyaan ini:
“Sejauh mana kita menjadi yang terbaik dalam hal itu? Dan apa yang sudah kita lakukan untuk mendapatkan pengakuan tersebut?”
Apa yang bisa memberikan keuntungan bagi kita?
Mungkin ini adalah elemen yang paling menjadi pertimbangan banyak orang. Setiap apa yang kita lakukan, khususnya dalam dunia profesional, memang harus ada manfaatnya untuk kita. Dalam hal ini kita berbicara mengenai keuntungan secara finansial.
Faktor ini yang menjadi alasan banyak orang tetap bekerja dengan segala konsekuensinya demi bisa mendapatkan kebutuhan dan kebahagiaan dasar dalam hidup. Akan sangat baik jika kita mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai “Seberapa besar value yang kita miliki untuk mengerjakan suatu pekerjaan?”
Tetapi jika kita belum yakin dengan value diri kita sendiri, kita bisa alihkan pertanyaannya menjadi “Seberapa besar orang lain dengan kapasitas yang kita miliki mendapatkan keuntungan ketika mengerjakan hal tersebut?”
Apa yang dunia butuhkan?
Elemen terakhir ini mungkin bagi sebagian besar orang sulit untuk menemukannya karena semakin banyaknya ide dan perkembangan teknologi. Banyak hal yang seolah “diadakan” di dunia walaupun sebenarnya tidak kita butuhkan.
Karena sejatinya, bisnis yang baik dan pekerjaan yang baik adalah yang bisa menyelesaikan permasalahan atau bisa membantu banyak orang. Semakin mendasar kebutuhan tersebut, maka akan semakin berdampak pada apa yang kita lakukan.
Coba refleksikan apa yang sedang kita kerjakan saat ini.
“Apakah bisnis atau pekerjaan kita bisa menjadi solusi bagi orang lain?”
Proses pencarian IKIGAI setiap orang berbeda-beda.
Ada yang dalam waktu beberapa bulan sudah bisa menemukannya.
Ada yang butuh puluhan tahun untuk bisa menyatukan 4 elemen tersebut.
Sebagai langkah awal, Hector Garcia dan Francesc Miralles dalam bukunya IKIGAI The Japanese Secret to a Long and Happy Life memberikan langkah praktikal untuk bisa menemukan IKIGAI kita.
Secara singkat berikut mengenai 10 pembahasannya:
- Stay active and don’t retire.
- Leave urgency behind and adopt a slower pace of life.
- Only eat until you are 80 percent full.
- Surround yourself with good friends.
- Get in shape through daily, gentle exercise.
- Smile and acknowledge people around you.
- Reconnect with nature.
- Give thanks to anything that brightens our day and makes us feel alive.
- Live in the moment.
- Follow your IKIGAI.
Itulah sekilas tentang IKIGAI dan bagaimana menerapkannya dalam hidup kita.
Punya pertanyaan ataupun masukan mengenai hal ini?
Mari berdiskusi di kolom komentar atau melalui e-mail kami.
Jangan lupa bagikan artikel ini agar semakin bermanfaat ya!


