Catatan dari Fadhlan Hamidi, CEO DigitalKrew
Kalau ada satu hal yang paling terasa berubah sejak saya mulai berkecimpung di industri ini di 2018, itu adalah cara brand memandang social media. Dulu, social media dianggap sebagai channel. Tempat menyebarkan pesan. Tempat upload konten. Tempat “hadir” secara digital.
Di 2026, cara pandang itu sudah tidak cukup.
Social media hari ini bukan lagi panggung. Ia lebih mirip ruang publik yang hidup. Orang datang bukan hanya untuk melihat, tapi untuk bereaksi, menilai, merespons, dan membentuk persepsi secara real-time. Di ruang seperti ini, brand tidak bisa lagi bersikap seperti announcer yang datang, berbicara, lalu pergi. Brand dituntut untuk ikut hidup di dalamnya.
Dari pengalaman kami di DigitalKrew, banyak brand sebenarnya sudah melakukan banyak hal dengan benar. Kontennya rapi, tone-nya konsisten, visualnya bagus, dan kalendernya terisi penuh. Tapi tetap saja, dampaknya terasa datar. Engagement ada, tapi tidak tumbuh. Awareness naik, tapi tidak berujung trust.
Masalahnya sering kali bukan di eksekusi, tapi di cara berpikir. Konten masih dibuat dengan mindset lama: menyampaikan pesan brand. Padahal di 2026, audiens tidak lagi mencari pesan. Mereka mencari relevansi.
Brand yang bekerja dengan baik hari ini adalah brand yang peka membaca situasi. Mereka tidak hanya bertanya “apa yang ingin kami sampaikan”, tapi “apa yang sedang terjadi di sekitar audiens kami, dan apakah kami pantas ikut bicara di situ”. Ini bukan soal ikut semua tren, tapi tahu kapan harus hadir dan kapan sebaiknya diam.
Hal lain yang makin terasa adalah pentingnya sikap. Dulu, brand identity sering dianggap cukup. Punya logo, warna, tone of voice, dan guideline. Sekarang, identity tanpa sikap terasa hampa. Audiens semakin jeli melihat mana brand yang benar-benar punya pendirian, dan mana yang hanya ingin terlihat relevan.
Brand tidak harus selalu vokal atau ikut semua isu. Tapi di 2026, brand yang kuat adalah brand yang konsisten dalam cara mereka merespons dunia. Cara menjawab komentar, cara menanggapi kritik, cara hadir di momen sensitif — semua itu membentuk persepsi jauh lebih besar daripada satu campaign besar.
Yang sering diremehkan adalah hal-hal kecil. Balasan komentar. Respons DM. Cara brand menanggapi pertanyaan yang sama berulang kali. Dari luar, ini terlihat operasional. Tapi justru di situlah relasi dibangun. Dari yang kami lihat, banyak keputusan beli hari ini tidak terjadi karena satu konten viral, tapi karena audiens merasa brand tersebut “hadir” dan bisa diajak bicara.
Konten juga berubah. Ada fase di mana brand berlomba terlihat sangat profesional. Semuanya disaring. Semuanya aman. Tapi semakin disempurnakan, konten justru kehilangan nyawa. Di 2026, konten yang bekerja sering kali bukan yang paling rapi, tapi yang paling manusiawi. Yang jujur, kontekstual, dan terasa nyata. Bukan asal-asalan, tapi tidak takut menunjukkan proses dan perspektif.
Strategi pun tidak lagi bisa kaku. Kalender konten tetap penting, tapi bukan kitab suci. Social media bergerak terlalu cepat untuk strategi yang tidak bisa menyesuaikan diri. Brand yang bertahan adalah brand yang konsisten pada tujuan, tapi fleksibel pada cara. Mereka tahu kapan harus mengikuti rencana, dan kapan harus menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Satu hal yang juga semakin jelas adalah bahwa pemisahan antara branding dan performance sudah tidak relevan. Di social media hari ini, konten yang membangun trust akan berdampak langsung ke efisiensi penjualan. Sebaliknya, dorongan jualan tanpa fondasi relasi hanya akan membuat audiens menjauh. Brand yang masih memisahkan keduanya biasanya kelelahan: iklan mahal, organik stagnan, dan arah tidak jelas.
Kalau harus dirangkum, brand yang akan bertahan dan tumbuh di 2026 bukanlah yang paling sering muncul atau paling keras bersuara. Tapi brand yang dewasa. Yang paham konteks. Yang tahu kapan berbicara dan kapan mendengar. Yang tidak hanya ingin dilihat, tapi ingin dipahami.
Pada akhirnya, social media bukan soal algoritma atau tools. Itu hanya alat. Yang menentukan adalah bagaimana brand memandang audiensnya. Sebagai target, atau sebagai manusia.
Dan perbedaan cara pandang itu, di 2026, terasa sangat jelas hasilnya.
—Ditulis oleh,
Fadhlan Hamidi
CEO – DigitalKrew

